9 Desember 2009 ?

Seperti diketahui tanggal Kamis, 9 Desember 2009 besok akan diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional. Banyak kalangan kaliber nasional ataupun daerah akan memperingati hari tersebut sebagai momentum untuk kembali mensuarakan segera diselesaikan “keresahan-keresahan” di masyarakat akan isu-isu nasional seperti Kasus Bibit-Chandra dan Kasus Dana Bail Out Bank Century.

Titik-titik terang sedikit terkuak memang, BPK sudah akui adanya penyelewengan. DPR-RI pun segera bergerak cepat, membuat Pansus dengan persetujuan bulat-mufakat semua fraksi. Tetapi bukan berarti rakyat dan semua pihak merasa lega. Rakyat harap-harap cemas ingin melihat apakah Pansus masih bisa “masuk angin” atau tidak. Pihak-pihak yang merasa tercemarkan isu-isu miring harap-harap cemas bagaimana penguakan kasus ini menuju.

Yang menjadi terasa aneh memang kesan banyak yang merasa keberatan peringatan 9 Desember akan diarahkan menuju gerakan massa menentang pemerintah yang sah. Hal ini  terutama dikemukakan pemerintah dan partai-partai pendukungnya. Sementara pihak-pihak penggagas peringatan ini menganggap keberatan atau ketakutan itu terasa berlebihan. Isu-isu plot sampai berkembang. Beredar isu adanya pertemuan Dharmawangsa (resume : http://inilah.com/berita/politik/2009/12/06/205911/inilah-resume-penjatuhan-sby-sebelum-100-hari/). Tak kurang Presiden sendiri menyatakan adanya analisa laporan intelejen tentang keinginan pihak-pihak tertentu menggunakan peringatan tersebut untuk hal-hal yang tidak baik.

Ada apa kah gerangan? Apakah memang demikian beratnya dampak sebuah peringatan?   Memang di satu sisi begitu banyak dan luasnya pihak yang terlibat dalam acara peringatan itu (sampai di 31 propinsi), menggambarkan resahnya masyarakat akan keadaan pemberantasan korupsi Indonesia dewasa ini. Sementara di sisi yang lain begitu banyak dan luasnya gerakan peringatan tersebut membuat “sensitifitas alarm” pihak-pihak yang terkait menjadi berbunyi kencang.

Mungkin kalau Pemerintah, Elit-elit politik bisa merespon-menangkap harapan-keresahan dari masyarakat itu secara “bijak” Insyaallah kekhawatiran “kejadian akan chaos” akibat peringatan tersebut tidak perlu terjadi. Yang dimaksud bijak tentunya ya semua bekerja sesuai porsinya menunjukkan komitmen dan kerja nyata pemberantasan korupsi dan penyelewengan apapun. KPK bekerja lebih keras, lembaga peradilan bekerja lebih teliti dan adil, pemerintah mendorong dan memberikan contoh, sementara elit-elit politik memberikan solusi-solusi yang cerdas.

Sungguh negara ini tidak akan maju hanya jika terus menerus mengedepankan ketakutan penguasa beradu dengan apriori masyarakat. Dialog dan rasa saling percaya harus terbangun, tetapi kunci awal ya memang tetap komitmen dan kerja nyata itu tadi.

(Awa)

Satu Tanggapan

  1. Bsk neh? Mendebarkan !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: