BAIKKAH LUNA DIJERAT UU-ITE ?

Seperti diketahui beberapa hari belakangan ini cukup santer beredar berita adanya hujatan artis cantik Luna Maya di jejaring sosial Twitter. Pro dan kontra langsung merebak. Ungkapan Luna yang menghujat insan pers khususnya insan pers infotainment sebagai “pelacur” dan segala macam berbuntut panjang.

Tak kurang PWI melaporkan Luna Maya ke Polda Metro Jaya dengan dasar UU-ITE seperti kasus Prita Mulyasari belum lama ini. Dalam laporan itu, Luna Maya dijerat pasal 27 ayat 3 junto pasal 45 ayat 1 UU ITE J, pasal 310, 311, 315 dan 335 KUHP. Semua itu merujuk kepada tindakan caci maki Luna kepada infotainmen yang dituduh sebagai tindakan pencemaran nama baik, fitnah, penghinaan, dan perbuatan tidak menyenangkan. Nantinya jika terbukti melakukan itu semuanya, Luna bisa terancam hukuman enam tahun penjara dan denda Rp1 miliar (inilah.com).

PSK pun Protes Luna

Di Slawi ada lagi satu berita dimana para PSK disana tidak terima disangkut-sangkutkan profesinya dengan pertentangan antara Luna dengan wartawan-wartawan infotainment. ’’Kata-kata Luna Maya telah melecehkan kami para pelacur. Seolah-olah dia paling suci,’’ kata Sumiyati (26), salah seorang PSK, Minggu (20/12). Hal ini seperti diungkapkan di http://ariefmas.wordpress.com.

Lapor Dewan Pers
Sementara Koordinasi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Margiono, berpendapat, Luna bisa melaporkan tindakan wartawan infotainment tersebut ke Dewan Pers. “Sebagai nara sumber, Luna Maya bisa melaporkan ke Dewan Pers,” imbuh Koordinasi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Margiono, di Jakarta, Senin (21/12) pagi tadi.

Ia menjelaskan, di dalam pasal 11 Kode Etik Jurnalistik, disebutkan wartawan harus dapat menghormati nara sumbernya. “Termasuk menolak untuk diwawancarai, apalagi yang berhubungan dengan privasinya, ” terangnya.

Margiono menilai akan lebih baik jika kasus Luna Maya ini dapat diselesaikan lewat Dewan Pers. “Akan lebih baik jika diselesaikan lewat ranah etik bukan ranah hukum. Dalam hal ini, Luna Maya dapat melakukan proses mediasi lewat Dewan Pers,” tutur Margiono.

Seperti Kasus Pencopet

Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat, Ilham Bintang, menilai kasus artis Luna Maya sebenarnya bukanlah hal penting sampai menyita harus perhatian serius wartawan. Untuk itu, kasus tersebut tidak perlu diperpanjang.

“Luna, tidak penting. Kasusnya pun tidak penting. Bukan sengketa berita” kata Ilham pada detikcom, Jumat.
Menurut Ilham, Luna bukan artis penting walaupun terkenal. Kekasih Ariel itu juga bukan pejabat negara atau penentu kebijakan yang keputusannya bisa mengganggu dan membahayakan keselamatan wartawan dan kemerdekaan pers.

“Kata katanya yang kotor hanya berdampak pada dirinya sendiri. Kata orang, ucapan dan perbuatan menjelaskan pikiran si pengucap. Kotor ucapannya seperti itulah pikirannya. Pers tidak akan jatuh atau terhina oleh perkataan Luna. Memangnya Luna bisa mempengaruhi masyarakat,” tambah Ilham.
Tapi dari kasus Luna, wartawan infotainment bisa mendapat pelajaran berharga. Yaitu  jangan mudah menokohkan seseorang yang tak jelas rekam jejaknya, labil emosi, tak terpelihara perkataannya.
Mengenai pengaduan infotainment ke polisi Ilham menyetujui dengan catatan kasus itu dihadapi seperti kasus pencopetan saja. “Kita kesal karena yang nyopet orang yang kita kenal,” kata Ilham mengilustrasikan. (http://pwi.or.id)

Implikasi ke Depan

Suka atau tidak suka, memang hubungan pers terutama di kalangan pesohor atau selebriti memang terkadang seperti hubungan kucing dengan tikus, yang satu terus mencari berita sedang yang lain kadang mencoba menghindar. Tetapi keduanya yang sering sama-sama memerlukan, satu mencari berita sedang yang lain mendapat “berkah” popularitas dari pemberitaan tersebut.

Dan ketika terjadi “penumpahan kekesalan atas ekses hubungan” yang terjadi antara keduanya, ya memang sikap ariflah yang semestinya menjadi pegangan. Belum lagi kasus Prita Mulyasari selesai (digugat dengan UU yang sama), kita kembali disuguhkan perkara yang kemungkinan menggunakan pasal yang sama. Memang walau esensinya berbeda, tetapi ada yang kadang kita lupakan yaitu :

  1. Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis akan UU-ITE tersebut belumlah benar-benar matang atau bahkan dibuat, sehingga apa, bagaimana dan kapan kita bisa menggunakannya pun belumlah jelas.

  2. Banyak kalangan yang menilai bahwa banyak pasal-pasal dalam UU-ITE berpeluang mengekang kebebasan pers. Ini walaupun pembuatan UU-ITE itu sendiri bermaksud baik yaitu mengatur bagaimana kita berinteraksi di dunia media elektronik.

  3. Kesan yang bisa timbul di kalangan masyarakat bahwa insan pers gampang untuk tersinggung bahkan lebih lagi kesan arogan sehingga akan berdampak kontraproduktif di kemudian hari.

Demikianlah sedikit tanggapan tentang kasus Luna Maya, yang sedikit banyak kita sesalkan sebagai insan pers akan terkaitkan dengan UU-ITE yang kita coba untuk cegah dan lawan dampak buruknya terhadap kebebasan pers kita di masa depan. Semoga semua pihak menahan diri. Ngono yo ngono neng yo ojo ngono, sama-sama cari duit lho bos baik selebritis maupun media…

(A.W. Adhidarma)

2 Tanggapan

  1. LUNA SAY TIDAK SETUJU JIKA KAMU DAN ARIEL PUTUSSSSS.

  2. disana salah disini salah apa lagi yang di inginkan.

    hidupkan seperti pohon..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: