GUSDUR : 1940-2009 (OBITUARI)

Telah meninggal di RSCM Jakarta 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB, Kyai Haji Abdurrahman Wahid. GusDur presiden kita yang keempat meninggal setelah sempat mengalami turun-naik kondisi kesehatan sejak beberapa hari yang lalu.

Apa yang menjadi kesan-kesan kita selama ini terhadap beliau. Yang pasti sangat banyak. Ada kontroversial tetapi banyak lagi yang sangat-sangat menyentuh hati terutama sisi-sisi kemanusiaan kita yang terdalam. Dan kesan mendalam inilah bentuk “Legacy” atau peninggalan beliau yang paling berharga bagi kita rakyat Indonesia.

Kesan Pertama mungkin sikap demokrat, merakyat dan plural beliau. Sangat-sangat unik, apalagi lahir dan besar di kalangan Ulama Islam tradisional. Beliau dekat dengan relatif demikian banyak kalangan, apapun latar belakangnya, apapun agamanya, apapun aliran politiknya dan apapun jabatannya.

FORDEM, Forum demokrasi yang dibidaninya bersama Marsilam, Bondan Gunawan, Romo Mangun(Y.B. Mangunwijaya), Arief Budiman, Franz Magnis Suseno, Todung Mulya Lubis, Rahman Tolleng, Djohan Effendi, Ghaffar Rahman, dan lain-lain ditahun 1991 adalah salah satu buah karyanya segera setelah merasa bibit-bibit sektarianisme mulai kencang di Indonesia pasca terbentuknya ICMI. Mungkin tanpa reaksi GusDur dan teman-teman lewat FORDEM, maka arus sektarianisme lebih kencang lagi dan tidak menutup kemungkinan terjadi konflik-konflik antar agama yang lebih parah dibanding yang sudah ada sampai sekarang.

GusDur juga menjadi presiden ketika konflik itupun menguat. Terpilihnya beliau sebagai Presiden memang sebuah solusi setelah penentuan Presiden dan Wappres di MPR dead lock (ketika itu yang memilih Presiden dan wakilnya belum langsung seperti sekarang). Satu kubu kaum nasionalis, kubu lainnya religius progressif. GusDur dan jajaran PKBnya menjadi alternatif  “Nasionalis religius” sebagai orang nomor satu yang tepat pada saat itu. Walau masa pemerintahannya yang sangat-sangat singkat yaitu sekitar 1,5 tahun diakhiri dengan kejatuhannya yang tragis di suatu Sidang Istimewa MPR tidaklah mengurangi jejak-jejak manis beliau.

Istana Presiden kita selama masa beliau menjelma menjadi suatu areal yang bukan lagi kaku, angker dan menyeramkan. Open house sering sekali dilakukan, sehingga Istana Presiden benar-benar terasa menjelma menjadi “rumah rakyat” rumah milik rakyat Indonesia seluruhnya.

Demikian pula keterbukaan Pers, sesuatu “Legacy” emas Presiden sebelumnya Prof. B.J. Habibie yaitu UU Kebebasan Pers 1999 diteruskan oleh beliau dengan “menutup” Departemen Penerangan yang dianggap selama Orde Baru cuma berfungsi membungkam keterbukaan di Indonesia. Walau banyak juga yang menyesalkan keputusan tersebut, tetapi berkah keterbukaan dan kebebasan pers masih bisa kita nikmati jejaknya sampai dewasa ini. Walau secara tragis pers bebas itu sendiri mungin juga yang mempercepat kejatuhannya 1,5 tahun kemudian…

Pluralisme apalagi. Tanya kepada semua orang Papua bagaimana jasa beliau. Tanya juga kepada umat kristiani Indonesia tentang penjagaan Banser (Barisan Serbaguna NU, satuan pengamanan dibawah NU yang lama beliau pegang, Red) disaat hari-hari besar keagamaan mereka sampai sekarang. Jaman beliaulah kerukunan antar umat beragama memang benar-benar diaplikasikan di lapangan bukan di wacana belaka. Ini bukan penilaian ekstrem, tetapi penilaian yang patut kita renungkan bersama. Orang keturunan Cina apalagi, agama khong Hu Cu sebagai agama resmi di Indonesia diaui di jaman beliau. Demikian pula eksistensi budaya dan hari-hari besar keagamaannya, disahkan di jaman beliau.

Kesan Kedua mungkin ya kontroversialnya itu. Banyak orang memang minimal mengernyitkan dahi ketika melihat beliau berbicara atau bertindak. tetapi ketika direnung-renung mendalam beberapa saat, beberapa bulan bahkan beberapa tahun kemudian, ucapan dan tindakan beliau menjadi banyak yang “relevan” untuk bangsa ini.

Menjelaskan kontroversial beliau mungkin bisa dari hobinya saja : beliau seorang pimpinan organisasi agama salah satu yang terbesar di Indonesia. Cucu pendirinya yang seorang pahlawan nasional termasuk bapaknya. Seorang idealis yang bisa serius, pimpinan umat yang jelas mumpuni ilmu agama dan ilmu kepemimpinanya itu…Tetapi hobinya sepak bola (lama jadi kolumnis bola di media massa dengan tulisan-tulisan yang menarik), musik klasik, film (pernah menjadi juri di FFI 1986 dan 1987) dan bercanda membuat lelucon. Bayangkan sebuah kombinasi yang luar biasa tetapi juga yang membuat begitu banyak kalangan terkesan dengan beliau.

Kesan Ketiga adalah pemberani. Bagaimana tidak pemberani…dengan segala maaf keterbatasan fisiknya, beliau  berani sanggup memimpin hampir 220 juta rakyat Indonesia. Tanpa “visi” dan “guts” yang cukup, mana ada yang berani menjadi pemimpin (yang mau mungkin banyak, tetapi berani dengan mau harus dibedakan!).

Dengan segala keterbatasannya beliau bisa bergaul dengan siapa saja, kalangan mana saja dan dengan orang berbahasa ibu apapun. Tentu modalnya juga ada, bahasa Inggrisnya fasih, Arab apalagi dan itu jelas modal dasar yang sangat-sangat cukup untuk berkomunikasi di Internasional.

Beliau juga pemberani dalam memutuskan sesuatu. Walaupun setelah itu dunia di hadapannya akan runtuh. Kontroversial mungkin tetapi berani jelas iya. Mungkin disini darah kakek dan ayahnya yang pemimpin umat dan pahlawan nasional itu mengalir dengan deras.

Berani memutuskan, itu memang suatu sikap kepemimpinan yang mungkin beberapa tahun belakangan  menjadi dirasa mahal adanya di bumi Indonesia tercinta. Berlindung dibalik sikap biar bawahan yang mengatasi, biar keadaan akan jadi kondusif sendiri tidak ada sama sekali dalam kamus dan kacamata berpikir beliau.

Penutup

Itulah Gus Dur, seorang pemikir, intelektual, pemimpin, penikmat seni, tukang guyon yang sempat ditentukan sejarah memipin Republik kita. Masa kepresidennya walau setahun tetapi jejaknya bertahun-tahun. Tulisan-tulisan pemikirannya berjejak lebih lama lagi. lelucon-lelucon segarnya mungin lebih lama lagi.

Mungkin sebagai penutup sedikit kita ungkap sebuah joke terkenal khas Gus Dur  yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro (sumber: http://www.kaskus.us). Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro. Leluconnya yang mengatakan bahwa semua presiden Indonesia punya penyakit gila.

Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila ilmu, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.

Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”

Selamat jalan Gus, semoga kami semua yang engkau tinggalkan mampu memelihara jejak-jejak manis yang kau tinggalkan…amin.

(Awa)

Catatan tentang Beberapa Pemikiran Gus Dur terakhir:

– Tulisan Gus Dur tentang kebangsaan (Sindo 11/2/2009) : http://wiwitfatur.wordpress.com/2009/02/11/hakikat-semangat-kebangsaan-kita/

– Tulisan Gus Dur tentang Pluralisme (Sindo 12/2/2009) : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/212895/

– Islam Benar Versus Islam salah (GusDur net 28/6/2007) : http://gusdur.net/Opinion/Detail/?id=93/hl=id/Islam_Benar_Versus_Islam_Salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: