RENUNGAN HARI PERS NASIONAL 2010 : TANTANGAN INDEPENDENSI DAN EKSISTENSI MEDIA LOKAL

Solo, Fakta12

Hari ini 9 Februari 2010 diperingati semua insan media sebagai Hari Pers Nasional. Berbagai kegiatan telah dilakukan menyambut hari ini oleh segenap insan Pers nasional. Bahkan puncak hari jadi di Palembang yang dihadiri langsung Presiden SBY dan Menkominfo Tifatul Sembiring itu telah ditandai dengan sebuah “kesepakatan Besar Para Insan Pers Nasional” yaitu Kesepakatan Palembang. Kesepakatan tersebut menindaklanjuti pertemuan sebelumnya di Semarang mengenai ratifikasi perusahaan pers yang meliputi standar perusahaan pers, standar kompetensi wartawan, kode etik jurnalistik dan standar perlindungan wartawan.

Kesepakatan akan Ratifikasi ini juga menandai era baru dunia pers nasional untuk bisa menyesuaikan diri berkembang di era serba cepat tetapi tak menentu dewasa ini. Sebagai outputnya memang akhirnya masyarakatlah yang harusnya mendapat manfaat sebesar-besarnya dengan makin bermutu dan terstandarnya pers baik dari segi produk, organisasinya, perusahaan maupun pelaksana di lapangan yaitu para wartawan.

Tetapi bukan berarti Tantangan akan jati diri Pers yaitu independensi dan eksistensi bisa diselesaikan hanya dengan kesepakatan ratifikasi ini belaka. Bahkan jika ratifikasi ini dalam operasionalnya nanti  dilakukan secara drastis dan tidak kontekstual maka hanya akan menambah masalah baru terutama di daerah. Apalagi jika ini terselip agenda-agenda pihak tertentu yang “gerah” dengan adanya era keterbukaan pers dewasa ini.

Mungkin masalah standarisasi pekerja pers dengan sebuah standarisasi profesi. Jika ini dilakukan secara kaku seperti organisasi profesi yang lainnya seperti dokter, insinyur, ahli ekonomi maka sejatinya ada dua hal yang nanti akan dilupakan disitu:

  1. Kita menjadi melupakan bahwa awal perkembangannya pers nasional adalah “pers perjuangan” yang didirikan oleh tokoh-tokoh berdedikasi tetapi otodidak. Coba kita teliti sejarah Adam Malik (Alm), Jusuf Ronodipuro (Alm), B.M. Diah (Alm), Mochtar Loebis (Alm) ataupun tokoh musium hidup pers kita Bapak Roosihan Anwar… mereka bukan secara khusus mendalami pendidikan pers, tetapi hanyalah anak-anak muda yang idealis, terpanggil menyuarakan kepedihan rakyatnya yang ditindas dan dijajah!

  2. Bahwa banyak insan pers itu sendiri sejatinya berasal dari kalangan-kalangan kekhususan profesi tertentu, sehingga dalam peliputan menghasilkan karya-karya jurnalistik yang “dekat-dekat” dengan kecabangan pendidikannya tersebut. Contohnya wartawan khusus ekonomi, khusus teknik, khusus hukum dan lain sebagainya.

Dalam hal ini mungkin ekses-ekses kurangnya pemahaman akan kode etik saja yang harus dikuatkan. Contohnya pengawasan akan pemberitaan yang berimbang, tidak bertujuan membentuk opini yang tidak sesuai dengan fakta dan hal-hal yang bisa menjurus kemungkinan penuduhan ke arah pencemaran nama baik…Inilah yang semestinya harus lebih ditekankan. Ingat dengan adanya UU40 tentang Pers, pasal-pasal KUHAP tentang pencemaran nama baik, UU ITE saja insan pers sendiri seharusnya sudah mengerti konsekuensi melanggar batasan-batasan akan etik dalam pemberitaan itu sendiri.

Memang harus diakui bahwa insan pers terutama di lokal atau daerah yang perkembangan demikian pesat dari 1999 sampai sekarang ini. Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara pernah menyebutkan, di Indonesia saat ini ada sekitar 1.008 media cetak, 150 lebih media televisi, dan 2.000 lebih radio. Total tiras media cetak mencapai 19,08 juta eksemplar. Sedangkan jumlah pemirsa televisi yang diperebutkan mencapai sekitar 30 juta orang dan pendengar radio sekitar 34 juta orang (ANTARANews). Dan hampir sebagian besar itu adalah memang media lokal atau daerah.

Di satu segi era keterbukaan pers dewasa ini dimaknai dengan makin kritisnya pemberitaan pers terutama pers daerah. Sesuatu hal yang bagus untuk mengawal proses otonomi daerah yang juga mulai bergulir kencang di saat-saat yang sama dengan era keterbukaan pers.  Tapi memang ekses-ekses negatif juga tidak kurang banyaknya. Wartawan menjadi sosok yang terkesan arogan, terkesan senang melakukan pemerasan dan pengancaman terhadap pihak-pihak yang tidak disukainya. Belum lagi gejala-gejala : mereka yang sebenarnya tidak punya kemampuan penulisan atau pemberitaan tapi mengaku-aku wartawan (abal-abal).

Hal-hal demikian jadi menutupi kalangan-kalangan tertentu di daerah yang relatif punya idealisme tinggi dan keinginan memberitakan sesuatu dengan niat  dasar  ingin memperbaiki keadaan. Semangat yang sejatinya warisan insan pers sejak jaman perjuangan kemerdekaan dahulu. Mereka ini juga jumlahnya banyak dan mungkin juga sebagian besar dari insan pers nasional terutama di daerah. Mereka biasa bekerja dengan anggaran dan kesejahteraan terbatas bahkan tidak ada sama sekali. tetapi semangat mereka memberitakan kebenaran tidak pernah surut.

Sosok mereka kalau kita bisa tokohkan bisa dilihat pada sosok Alm. Udin (wartawan BERNAS) dan yang baru-baru ini meninggal secara tragis Alm. AA Narendra Prabangsa (wartawan Radar Bali). Dan ingat mereka adalah wartawan-wartawan idealis dari media lokal atau daerah!

Sosok mereka bisa kita tokohkan kepada begitu banyak teman-teman dari EPISTOHOLIK, menyuarakan pandangan dan temuannya melalui surat-surat pembaca di media-media terutama media lokal.

Sosok-sosok mereka juga bisa kita tokohkan kepada orang-orang muda yang mulai merambah dunia maya Internet, menulis jurnalisme lokal warga (citizen Journalism) melalui Blog-blog atau bahkan membuat situs-situs resmi sendiri, menyuarakan kebenaran dan fakta-fakta. Merekalah anak-anak kandung jaman internet sekarang seperti disebut Dan Gillmor dalam buku We, The Media menyebut istilah grassroot journalism, by the people, for the people.

Sebagai akhir renungan coba kita bahas berita adanya demonstrasi damai wartawan di Jakarta yang tergabung dalam Poros Wartawan Jakarta (Berita RRI 9/2). Dalam penjelasan tentang aksinya tersebut wakil dari PWJ yaitu Widi Wahyu menjelaskan 3 hal yang penting diperhatikan sebagai renungan dalam Hari Pers nasional 2010 ini :

  1. Penganiayaan terhadap wartawan serta belum terbuka seluas-luasnya informasi terhadap wartwan masih saja terjadi

  2. Adanya perusahaan-perusahaan pers yang dianggap kurang manusiawi memperlakukan wartawannya, terbukti dengan PHK massal wartawan di media televisi dan cetak. Ini belum lagi ditambah fenomena banyak pimpinan perusahaan pers yang gerah akan adanya serikat pekerja pers di perusahaannya.

  3. Perlunya upah yang layak bagi pekerja media. Kalau bisa ada suatu standarisasi upah terutama di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia

Dirgahayu Pers Indonesia. Semoga kita semua bisa menjaga eksistensi dan independensi pers demi bangsa dan negara Indonesia tercinta.

(AWA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: