PELAKSANAAN PERBAIKAN DRAINASE SOLO MENDESAK

Solo, fakta12

Untuk mengantisipasi jika terjadi banjir maka Komisi II DPRD Kota Solo mendesak segera dilakukannya proyek normalisasi drainase kota. Berdasar pengamatan Komisi II di beberapa titik lokasi sering terjadi genangan air saat hujan mengguyur Kota Solo. genangan-genangan air ini tidak segera surut bahkan setelah hujan mereda.

Situasi ini salah satunya disinyalir akibat saluran drainase yang kurang berfungsi dengan baik. Daya tampung sistem drainase yang ada sudah tidak optimal atau malah mungkin sudah tersumbat. “Misalnya saja seperti di Manahan atau Gendengan. Jika hujan pasti langsung terjadi genangan air,” ujar Sekretaris Komisi II, Quatly Abdulkadir Alkatiri kepada wartawan di Gedung Dewan, Selasa (9/2).

Lanjut Quatly, dirinya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terkait langkah penanggulangan banjir tersebut. Dikatakannya juga, memasuki musim penghujan, Komisi II juga mengharapkan DPU segera melakukan pengecekan terhadap keberadaan pintu air yang mengarah ke Sungai Bengawan Solo. Pasalnya, berdasarkan temuan Komisi II, setidaknya terdapat dua pintu air yang jelas mengalami kerusakan. “Kami memperkirakan jumlah lebih dari itu. Namun sebenarnya keberadaan rumah pompa yang terletak di Joyotakan juga sudah cukup bagus untuk mengatasi banjir di wilayah itu,” jelas Quatly

Dari pengamatan Fakta12 di lapangan memang pada keadaan hujan lebat lebih dari 2 jam memang banyak titik-titik genangan air yang tidak segera surut. ironisnya lagi beberapatitik adalah jalan-jalan besar yang ramai dan padat aktifitas lalulintasnya.

Padahal sebenarnya sudah dikenal lama bahwa “grand design” drainase Solo lama cukup terkenal baik untuk kota seukuran yang sama. Mungkin yangsebanding untuk ukuran kota yang sama mungkin cuma Yogyakarta. JamanBelanda keduakota ini terkenalmempunyaisaluran drainaseyang memadai di pusat-pusat kota lamanya.

Kalau kita kenal Kalilarangan (drainase kali bawah jalan) dan Kalipepe (banjir kanal) di Solo adalah salah satu masterpiece dari Grand design drainase dan pengendalian banjir tersebut. Cuma memang sepuluh tahun terakhir (sejak 1998 kira-kiranya) Pemerintah kota Solo terkesan belum lagi membuat satu penataan serius tentangdrainase kota. Pengendalian banjir mungkin iya, terbukti dengan pembuatan beberapa pompa pengendali banjir di Pucang sawit dan Joyotakan. Itupun karena desakan masyarakat yangkuat setelah banjir besar di awal tahun 2008 dahulu.

Tetapi sementara itu sistem drainase kota terpadu belum terealisir sampai sekarang. Perbaikan kecil di sana-sini iya,tetapi kesannya memang menjadi tambal sulam. Moga-moga hal ini menjadi PR serius Pemerintah kota Solo ke depan.

(Aw + berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: