BRT Surakarta, mungkin bisa contoh Yogya (sebuah komentar)

Solo, Fakta12,

Beberapa bulan ini kota Surakarta sudah mulai menyusul tetangganya kota Yogya dengan mulai mengoperasikan BRT (Bus Rapid Transportation, red). Bagaimanapun pengoperasian ini tentunya bertujuan baik untuk mengurangi problem transportasi kota. Sayang dalam pelaksanaan di lapangan terlihat masih banyak kelemahan. Ini wajar karena sebagai “pemula” dalam pengoperasiannya, jelas memerlukan proses untuk menjadi makin mantap.

Tetapi jika fenomena-fenomena yang ada di lapangan tidak segera dianalisa dan diantisipasi jelas nanti kedepan akan menumpuk, menjadi akut bahkan bisa menyebabkan pengoperasian BRT bukannya menyelesaikan sebagian problem, malah menambah problem dalam transportasi kota.

Bukan ingin membanding-bandingkan, Yogyakarta memang lebih siap dalam hal pengoperasiannya. Pengoperasian BRT di kota ini sudah terlihat dipersiapkan matang jauh hari sebelumnya. Dari hal bagaimana pembuatan corridor, trayek yang ditempuh antar corridor, halte  dan cara serta awak BRT terlihat dipersiapkan secara khusus.

Pembagian corridor, trayek dan plot halte terlihat memang menyesuaikan dengan pembangkit-pembangkit lalu lintas yang ada (Traffic generation, red.). Sementara itu penyiapan awak BRT dan pengoperasiannya terlihat menerapkan prosedur-prosedur yang baku dan tetap.

Pengoperasian di Surakarta mungkin jadi agak berbeda. Pertama dari segi trayek, BRT menjadi terkesan hanya “malih rupa” dari bus DAMRI yang telah dioperasikan sebelumnya. Kedua dari segi pengoperasian, banyak rumor yang mengatakan awak BRT  yang menaik-turunkan penumpang di sembarang tempat, bukan di halte seperti aturan umumnya pengoperasian BRT. Belum lagi dengan aplikasi antar moda transportasi dengan yang lainnya. Belum terlihat interlink yang jelas.

Dalam hal ini memang terminal antar moda Bandara Adisucipto yang menggabungkan antara transportasi darat dalam kota (BRT), transportasi darat antar kota (bus shuttle DAMRI ke Magelang dan Purworejo) serta transportasi KA antar kota (Prambanan Ekspress Kutoarjo-Yogya-Solo PP) mungkin sebuah “masterpiece” yang patut dicontoh. Kota kita, Surakarta masih belum berhasil memadukan itu di stasiun Purwosari  misalnya, masih terkesan antar moda yang “bimbang”. Apalagi untuk membuat interlink ke bandara Adisumarmo atau terminal bus Tirtonadi misalnya, seperti jauh panggang dari api.

Atasi Kendala

Mungkin ada 3 kendala utama yang menyebabkan sampai pengoperasian BRT di Surakarta. Hal tersebut : Pertama masih adanya egosentris antar kawasan cakup BRT, Kedua belum dilibatkannya semua stakeholder dalam merencanakan dan pelaksanaannya di lapangan, Ketiga belum padunya antara visi elite pemerintah kota yang jauh kedepan dengan jajaran suku dinas pelaksana di bawahnya.

Hal pertama mungkin yang mendesak harus segera dilaksanakan. Mengapa karena bagaimanapun pengoperasian BRT sejatinya akan menguntungkan semua daerah yang dilaluinya. Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta sebenarnya sangat mendesak untuk mempunyai suatu moda transportasi terpadu, cepat, aman dan nyaman. Yogya saja bisa bekerjasama dengan Kabupaten Klaten di Prambanan. Mungkin masalah-masalah yang timbul Cuma kompromi aturan main yang jelas saja yang belum sempat terealisasi.

Hal Kedua memang dari awal terkesan pengoperasian BRT di Surakarta seperti instant, jadi belum sempat melibatkan semua stake holder yang ada. Kota Surakarta punya perguruan-perguruan tinggi, yang beberapa diantaranya merupakan “centre of excellence” atau pusat-pusat kajian masalah transportasi yang cukup baik. Pengusaha angkot, pengusaha bus kota, masyarakat pengguna terkesan belum dilibatkan maksimal. Semoga kedepan dalam penataan dan pengembangan hal ini makin diperhatikan.

Hal Ketiga memang perlu diantisipasi untuk kedepan. Bagaimanapun administrasi pemerintahan Jokowi-Rudy yang memerintah kota Surakarta (masuk ke periode kedua) membuat banyak sekali terobosan baik secara fisik maupun budaya. Ini jelas mencerminkan visi mereka yang jauh kedepan. Namun tidak tau apakah karena kendala SDM atau memang hanya kendala gap budaya. Maka kalau kadang implementasi di lapangan “kurang pas” mungkin ya jelas gebyarnya tetapi kelanjutannya diragukan. BRT ini rupanya tidak luput dari itu. Mungkin perlu sedikit perenungan bersama kedepan.

Penutup

Akhir kata tulisan ini bukan ingin membanding-bandingkan. Bagaimanapun juga sebagai “wong Solo” kita harus memberikan selalu masukan positif agar BRT khususnya dan transportasi Surakarta umumnya makin aman, nyaman, terjangkau dan cepat. Semoga saran ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua ke depan.

(A. W. Adhidarma, Pemimpin Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: