4 RELAWAN GUGUR MENJALANKAN TUGAS KENA WEDHUS GEMBEL

Yogya, Fakta12

4 Relawan ternyata didapati gugur menjalankan tugas ketika awan panas (wedhus gembel) merapi  mengamuk, 4 Nopember 2010 yang lalu. Mereka tergabung dalam TAGANA (Taruna Siaga Bencana, red), sedang menjalankan misi kemanusiaan di dusunnya Glagaharjo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Komandan Tagana, Andi Anindito, mengungkapkan empat relawan Tagana DIY yang tewas bernama Ariatno, Samiyo, Supriyadi, dan Supriyanto. Jenazah Ariatno dan Samiyo sudah berhasil ditemukan di Dusun Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (7/11) dan kini berada di Rumah Sakit dr Sardjito, Sleman, Yogyakarta. Sedangkan jenazah Supriyadi dan Supriyanto masih terkubur material panas Gunung Merapi sedalam 3 meter.

Supriyadi dan Supriyanto menjaga gudang logistik bantuan. Sementara Ariatno dan Samiyo berjaga di tempat lain, namun masih berada di wilayah Glagaharjo. Ketika Merapi menunjukkan tanda-tanda memburuk pada Jumat pukul 01.00 WIB, Supriyadi dan Supriyanto mendengar adanya sejumlah penduduk yang terancam oleh awan panas. Di sisi lain, keduanya harus menjaga logistik pengungsi. ”Namun, mereka tetap mendekati para pengungsi dan membujuk turun. Akhirnya malah nggak selamat,” ucapnya.
Sebelum wedus gembel turun menggulung, menurut Andi, Supriyadi dan Supriyanto sempat menelepon posko yang berada di bawah. Komandan lapangan saat itu meminta agar keduanya segera turun dan menyelamatkan diri. Namun, mereka memilih untuk menjemput para pengungsi.

Begitu pula dengan Ariatno dan Samiyo. Kedua relawan ini tetap bertahan untuk mengevakuasi warga meski wedus gembel kian dekat. Mereka sebenarnya menunggu kendaraan susulan yang akan melarikannya ke tempat aman, namun terlambat.

SURONO : Jangan jadi Pahlawan

Sementara itu Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Surono meminta para relawan agar berhati-hati. Jangan hanya bermodal nekat, kemudian melakukan evakuasi yang justru mengancam keselamatan nyawa sendiri.

“Sampaikan semua kepada relawan dan wartawan yang baru datang, yang tidak tahu Merapi. Deposit angin awan panas masih 300-400 derajat celcius, jadi kena anginnya saja bisa jadi masalah. Jangan coba-coba jadi pahlawan,” kata pria yang akrab disapa Mbah Rono ini seperti dilansir detikcom, Senin (8/11).

Untuk evakuasi, baiknya diserahkan kepada Kopassus ataupun Tim SAR, dan Polri. Mereka sudah terlatih menghadapi kondisi ekstrem.

“Relawan yang biasa jangan ikut-ikut. Kalau Kopassus itu sudah dilatih di kondisi ekstrem,” tutupnya.

(disarikan dari beberapa sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: